Larangan Judi di Agama Islam (Terutama membahas Slot Game)

hukum bermain game bisa saja menjadi makruh ataupun menuju pada haram ketika bermain game menyebabkan terbengkalainya kewajiban dan menyebabkan orang tersebut lalai dalam menejalankan ibadah maupun pekerjaan duniawi, Daalam (Syekh Musthafa, al-Fiqhul Manhaji, 1992, VIII: 166) berbunyi “Di antara permainan ini adalah catur yang selalu menyibukkan hati dan menggerakkan akal pikiran. Tidak diragukan lagi bahwa catur tidak terlepas dari faedah bagi hati dan akal. Apabila seseorang disibukkan dengannya sampai melebihi kadar faedah itu, maka hukumnya makruh. Namun, apabila terlalu disibukkan, sehingga berdampak menggugurkan sebagian kewajiban, maka hukumnya kembali menjadi haram.”

(Syekh Wahbah az-Zuhaili, Fatawa Mu’ashirah, [Bairut, Dar al-Fikr 2003], h. 200).
“Sesungguhnya, kecanduan pada komputer sangat berbahaya bagi akal, melihatnya bisa melemahkan pancaindra (mata), sedangkan yang baik adalah yang sedang-sedang saja. Dan apabila begadang di depan komputer sampai menyebabkan terbengkalainya shalat fardhu, seperti subuh dan yang lain, maka hukumnya haram”

Judi Slot Game adalah penyakit masyarakat yang telah mengakar di berbagai belahan dunia. Awalnya hanya uji coba peruntungan tetapi setelah sekali mencoba, setiap pemainnya akan mencoba lagi dan lagi. Inilah yang dinamakan dengan kecanduan judi dimana setiap pemainnya tak ada satu pun yang mau berlapang dada menerima kekalahan. Bahkan, kekalahan sekalipun tidak menjadikan mereka jera untuk memainkannya. Meskipun kekalahan yang mereka alami telah menggunung, seperti ada magnet yang menarik mereka untuk kembali ke arena permainan judi berikutnya. Atas dasar ini, jangan heran jika penjudi tidak pernah berhenti.
Sekilas judi nampak seperti permainan biasa dimana sekelompok orang tengah asyik memainkan kartu yang mereka pegang. Yang membedakannya dengan permainan kartu biasa yaitu adanya taruhan berupa materi, umumnya uang. Itu artinya, setiap individu dalam permainan judi memiliki risiko kehilangan harta benda yang dipertaruhkannya. Nilai yang dipertaruhkan pun tidak main-main sehingga kerap kali seorang penjudi menghabiskan gajinya, simpanannya, menggadaikan atau bahkan menjual aset berharga yang dimilikinya. Bahkan, penjudi akan menghalalkan berbagai cara agar mendapatkan sejumlah uang taruhan di meja judi. Kasus semacam ini banyak terjadi tidak hanya di Indonesia saja, tetapi juga negara-negara lainnya. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh seorang eksekutif Wall Street yang telah menipu keluarganya dan orang-orang di sekitarnya.

Penjudi tidak pernah berhenti. Mengapa demikian? Perlu Anda ketahui bahwa orang bermain judi bukan hanya untuk menang. Pendapat inilah yang diutarakan oleh Mark Griffiths, yang merupakan salah satu piskolog dari Universitas Notingham, Inggris. Dari survei yang telah dilakukan pada 5.500 penjudi, disinyalir bahwa prospek memenangkan uang yang melimpah menjadi faktor terkuat mengapa seseorang bermain judi. Kemudian, disusul dengan alasan karena judi menyenangkan dan karena judi seru.
Bermain judi bukan masalah menang atau kalah, tetapi hiburan. Asumsi ini didukung oleh penemuan atas penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yang berasal Universitas Stanford, California. Dari penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa ada sekitar 92% penjudi yang telah kehilangan batasan. Dari fakta yang ada yaitu bahwa mereka telah kehilangan sejumlah uang setelah berkunjung dari kasino rupanya tak berdampak pada kenikmatan bermain judi. Para penjudi telah merasa puas terhadap kemenangan kecil serta mereka masih menganggap wajar suatu kerugian kecil. Hingga pada akhirnya mereka terus bermain dan para penjudi tidak pernah berhenti.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *